Jambi, Pohon, dan Fashion Baru Gaya Hidup Hijau
naturesmartcities.com – Gerakan tanam pohon serentak di Jambi tiba-tiba terasa seperti panggung fashion raksasa. Bukan fashion baju mewah, melainkan fashion gaya hidup baru: gaya hidup hijau. Saat pejabat, warga, pelajar hingga komunitas lokal turun bersama ke tanah, kita seolah melihat tren besar lahir. Tren ini tidak muncul di catwalk kota besar, tetapi tumbuh pelan di lahan yang dulu gersang.
Ketika Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup menilai Jambi sebagai contoh, sesungguhnya ia sedang menyorot perubahan selera kolektif. Kian banyak orang menganggap aksi menanam pohon sebagai bagian fashion keseharian. Menenteng cangkul, memakai topi lebar, sepatu boots berlumpur, itu semua menjelma simbol status baru. Status bahwa pemakainya peduli bumi, bukan sekadar mempercantik tampilan luar.
Table of Contents
ToggleMenanam Pohon sebagai Fashion Gaya Hidup Baru
Kita terbiasa memaknai fashion sebatas pilihan pakaian, merek tas, atau model sepatu terbaru. Namun gerakan tanam pohon serentak di Jambi membuka sudut pandang segar. Fashion ternyata juga bisa berarti cara seseorang menampilkan nilai, etika, serta kepedulian. Membawa bibit pohon, memotret proses penanaman, lalu mengunggahnya di media sosial, menjadi bentuk baru mengekspresikan identitas.
Saya melihat Jambi seperti peragaan busana nilai keberlanjutan. Setiap lubang tanah yang digali memamerkan komitmen. Setiap tunas kecil menghadirkan harapan. Di era ketika foto OOTD mendominasi linimasa, muncul gerakan OOTD versi hijau: Outfit Of The Day saat menanam. Bukan fokus pada baju, melainkan pesan bahwa menjaga lingkungan adalah fashion paling mutakhir.
Gerakan ini patut diapresiasi karena mampu mengubah mindset. Tanam pohon tidak lagi terasa sebagai tugas berat, tetapi sebagai aktivitas gaya. Ketika anak muda mulai menganggap kegiatan hijau itu keren, keberlanjutan punya peluang besar menjadi arus utama. Dari sini Jambi layak disebut runway awal untuk fashion ekologis Indonesia.
Menghubungkan Industri Fashion dengan Hutan
Industri fashion sering disorot sebagai penyumbang polusi. Mulai limbah tekstil, pewarna sintetis, sampai jejak karbon rantai produksi. Kontras sekali dengan suasana hijau gerakan tanam pohon serentak di Jambi. Justru di titik inilah hubungan unik muncul. Hutan bisa menjadi penyeimbang jejak emisi yang ditinggalkan tren pakaian cepat ganti.
Bayangkan bila setiap koleksi fashion baru disertai komitmen penanaman pohon. Satu pakaian setara satu bibit. Desainer bekerja sama dengan komunitas di Jambi atau daerah lain. Catwalk buka musim koleksi, lalu musim tanam menyusul. Cerita di balik pakaian tidak berhenti pada motif kain, tetapi meluas ke kawasan hutan yang ikut pulih.
Dari sudut pandang pribadi, saya melihat peluang narasi branding baru. Label fashion tidak hanya menjual keindahan desain. Mereka dapat menonjolkan keterlibatan nyata pada pemulihan lahan kritis. Konsumen lalu merasa membeli baju sekaligus membeli masa depan planet. Gerakan tanam pohon serentak Jambi bisa menjadi studi kasus kemitraan kreatif antara kreator mode, pemerintah, hingga masyarakat akar rumput.
Refleksi: Saat Fashion Menjadi Aksi Nyata
Jambi memberikan pelajaran penting: fashion terkuat bukan terletak pada logo besar di dada, tetapi pada jejak yang ditinggalkan di tanah. Tanam pohon serentak menunjukkan bahwa gaya hidup hijau dapat dirancang seanggun koleksi haute couture, namun jauh lebih tahan lama dari tren musiman. Ketika kita mulai menganggap cangkul, bibit, hutan, serta udara bersih sebagai bagian fashion pribadi, keputusan sehari-hari ikut berubah. Kita lebih selektif membeli pakaian, lebih tertarik pada produk berkelanjutan, dan lebih rela meluangkan waktu untuk menanam. Pada akhirnya, refleksi terbesar dari gerakan ini adalah kesadaran bahwa bumi bukan sekadar latar foto outfit, melainkan panggung utama tempat seluruh fashion kehidupan kita berlangsung.
Anda Mungkin Suka Juga
Menyusuri Jejak Samurai di Pantai Anoi Itam: Sebuah Perjalanan dalam Sejarah dan Keindahan
November 20, 2025
5 Tempat Makan Malam Laweyan yang Selalu Bikin Kangen
Januari 18, 2026