Travel Hemat: Ngabuburit Seru di Alun-alun Kidul Solo
naturesmartcities.com – Travel murah bukan berarti pasrah pada pengalaman seadanya. Di Solo, tepatnya di Alun-alun Kidul, sore Ramadhan bisa berubah jadi momen istimewa bermodalkan bujet sederhana. Dengan Rp 84 ribu untuk dua orang, kamu sudah bisa mencicipi suasana ngabuburit khas kota budaya, lengkap dengan jajanan, aktivitas seru, hingga spot foto yang instagramable. Kuncinya ada pada cara mengatur alur perjalanan, memilih aktivitas, serta mengelola pengeluaran kecil agar tidak bocor halus.
Melalui rute travel singkat ini, saya ingin mengajakmu melihat Alun-alun Kidul Solo bukan sekadar lapangan luas di pusat kota. Area ini hidup menjelang senja, berubah menjadi ruang pertemuan warga lokal, wisatawan, hingga para pemburu takjil. Aroma makanan, tawa anak-anak, suara adzan magrib di kejauhan, berpadu menjadi pengalaman sensori yang sayang diabaikan. Mari menyusun itinerary ngabuburit hemat, tetapi tetap bernilai untuk cerita perjalananmu.
Table of Contents
ToggleAlun-alun Kidul Solo, Ruang Publik Ramah Travel Hemat
Bagi pecinta travel urban, Alun-alun Kidul Solo menawarkan kombinasi ruang terbuka, kuliner, serta interaksi lokal yang cukup kuat. Area ini memanjang di sisi selatan kompleks Keraton, sehingga menghadirkan latar sejarah tanpa perlu tiket masuk. Cukup datang menjelang sore, kamu sudah bisa melihat perubahan suasana dari tenang menuju ramai menjelang adzan. Buat traveller berbujet minim, ini modal awal yang sangat menguntungkan.
Salah satu keunggulan alun-alun sebagai tujuan travel adalah aksesnya yang mudah. Kamu bisa tiba menggunakan transportasi umum, ojek online, atau kendaraan pribadi. Ongkos menuju lokasi relatif terjangkau dari berbagai sudut kota Solo. Sesampai di sana, kamu tak harus langsung belanja. Cukup berjalan pelan di tepi lapangan, mengamati aktivitas warga, sembari memetakan lapak mana yang menarik. Observasi singkat seperti ini membantu menghindari belanja impulsif.
Identitas budaya Solo terasa kuat di sini, meski atmosfernya cukup santai. Bila kamu gemar travel dengan pendekatan experiential, momen ngabuburit menjadi jendela kecil untuk memahami ritme hidup masyarakat. Caranya sederhana: duduk, perhatikan, lalu berbaur perlahan. Kamu bisa memulai obrolan ringan dengan pedagang, bertanya soal jajanan favorit pengunjung lokal, atau sekadar menanyakan cerita tentang perubahan alun-alun dari tahun ke tahun. Interaksi seperti ini tak butuh biaya, tetapi memberi nilai besar bagi pengalaman perjalanan.
Rincian Bujet Rp 84 Ribu untuk Dua Orang
Pertanyaan klasik setiap pegiat travel hemat: apakah Rp 84 ribu cukup untuk bersenang-senang berdua? Jawabannya: sangat mungkin, asalkan kamu paham prioritas. Pertama, alokasikan sebagian untuk minuman pembuka, misalnya es teh, es jeruk, atau minuman segar lain sekitar Rp 5–8 ribu per gelas. Dua minuman berarti sekitar Rp 10–16 ribu. Minuman ini penting karena ngabuburit sering berlangsung di udara hangat, sehingga tubuh tetap segar saat menunggu waktu berbuka.
Berikutnya, fokus pada menu utama berbuka. Di area alun-alun, kamu bisa menemukan aneka makanan seperti nasi goreng, mi jawa, soto, atau sate. Harga rata-rata berkisar Rp 12–20 ribu per porsi. Bila kamu memilih kisaran tengah, misalnya Rp 15 ribu per orang, totalnya Rp 30 ribu. Ditambah camilan ringan seperti gorengan, cilok, atau jajanan pasar sekitar Rp 10–12 ribu, pengeluaran untuk makanan masih aman di angka Rp 40–45 ribu. Sampai tahap ini, bujet total kamu berkisar Rp 55–60 ribu.
Sisa sekitar Rp 24–29 ribu bisa dialokasikan untuk aktivitas penunjang travel, misalnya menyewa sepeda hias, odong-odong, atau permainan anak bila kamu membawa keluarga. Harga sewa sekitar Rp 15–20 ribu per sesi, biasanya cukup dinikmati berdua. Bila ingin pengalaman lebih tenang, sisa bujet dapat dialihkan pada tambahan minuman, kopi sachet kekinian, atau satu porsi dessert dibagi berdua. Intinya, Rp 84 ribu bukan penghalang, melainkan batas kreatif untuk menyusun prioritas kesenangan.
Itinerary Ngabuburit: Dari Tiba Hingga Usai Buka Puasa
Sekitar pukul 16.00, tiba di area alun-alun dan luangkan waktu lima belas menit untuk berjalan memutari sisi luar. Ini tahap eksplorasi visual khas travel santai: amati pedagang, tentukan titik favorit untuk duduk. Pukul 16.30, beli minuman segar lalu cari tempat duduk nyaman, entah di tikar sewaan ataupun bangku beton. Gunakan sekitar tiga puluh menit untuk foto-foto, merekam suasana, atau membuat catatan kecil bila kamu gemar menulis. Menjelang 17.00, saat langit mulai berubah warna, pilih wahana ringan seperti sepeda hias atau sekadar berjalan ke tengah lapangan. Pukul 17.20, pesan makanan utama serta takjil, lalu susun posisi piring rapi seakan kamu sedang membangun “meja piknik” ramah foto. Ketika adzan berkumandang, kamu bukan hanya berbuka dengan rasa lapar terobati, tetapi juga membawa pulang pengalaman travel singkat yang tertata rapi, hemat, namun tetap berkesan.
Sisi Lain Ngabuburit: Atmosfer, Interaksi, dan Refleksi
Bagi saya, daya tarik travel ke Alun-alun Kidul Solo tidak hanya terletak pada murahnya jajanan. Lebih dari itu, area ini memperlihatkan bagaimana ruang publik bekerja sebagai tempat temu lintas kelas sosial. Kamu bisa melihat pekerja kantoran, pedagang kecil, mahasiswa, hingga keluarga muda berkumpul di satu hamparan yang sama. Semua melebur tanpa sekat mencolok. Pemandangan seperti ini memberi pelajaran tersendiri mengenai kesederhanaan kebahagiaan.
Menjelang magrib, aktivitas bergerak dengan ritme yang hampir serempak. Pedagang mulai sibuk menata bungkus makanan, konsumen merapikan posisi duduk, anak-anak mengurangi permainan. Dalam travel harian yang sering terburu-buru, momen sinkron semacam ini jarang kita temukan. Di sini, kamu seakan diingatkan bahwa ada jam tertentu ketika kota melambat, lalu kembali hidup setelah perut terisi. Pengalaman ini diam-diam menyusun pola baru tentang cara menikmati kota.
Bila kamu datang sebagai penggemar travel fotografi, suasana senja di alun-alun menghadirkan banyak subjek menarik. Siluet pepohonan, lampu kendaraan mulai menyala, wajah-wajah menunggu adzan dengan ekspresi antusias, semua layak diabadikan. Saya pribadi melihat alun-alun sebagai studio terbuka yang terus berubah, tanpa setting artifisial. Tantangannya hanya satu: berfoto secara etis, menjaga privasi orang lain, serta tidak mengganggu kenyamanan pengunjung lain ketika mengejar sudut gambar terbaik.
Tips Strategis Agar Travel Ngabuburit Tetap Nyaman
Walau konsepnya travel hemat, kualitas pengalaman tetap bisa dijaga dengan beberapa trik sederhana. Pertama, pilih pakaian yang membuatmu leluasa bergerak. Ingat, kamu akan duduk di area terbuka, mungkin berpindah dari tikar ke bangku, atau berjalan melintasi kerumunan. Sepatu nyaman lebih rasional ketimbang sandal yang mudah lepas. Bawa juga tisu basah serta hand sanitizer, karena tidak semua sudut menyediakan fasilitas cuci tangan memadai.
Kedua, atur cara belanja agar bujet Rp 84 ribu tidak jebol. Biasakan memutari area sekali sebelum membeli. Catat mental harga rata-rata makanan favorit, lalu bandingkan. Perbedaan kecil seribu atau dua ribu rupiah akan terasa signifikan ketika dikalikan beberapa item. Ini berlaku kuat untuk pegiat travel yang sering tergoda jajanan. Buat batas jelas, misalnya maksimal dua camilan per orang, selebihnya fokus pada menu utama saja.
Ketiga, kelola ekspektasi. Travel ke alun-alun bukan perjalanan mewah, melainkan perjalanan rasa: rasa kebersamaan, rasa syukur saat berbuka, rasa dekat dengan masyarakat lokal. Jangan berharap fasilitas steril seperti mal besar. Terimalah sedikit debu, suara bising, serta kemungkinan hujan rintik. Sikap menerima ini justru membebaskanmu, sehingga kamu bisa lebih fokus pada hal-hal menyenangkan, bukan sibuk mengeluh pada kekurangan.
Refleksi Akhir: Travel Pendek, Ingatan Panjang
Pada akhirnya, itinerary ngabuburit di Alun-alun Kidul Solo dengan bujet Rp 84 ribu berdua membuktikan bahwa travel bermakna tidak selalu menuntut jarak jauh atau dana besar. Satu sore di ruang publik kota bisa membuka banyak lapisan cerita: tentang kebersahajaan, tentang cara orang merayakan waktu tunggu, tentang kapasitas kita mensyukuri hal kecil. Ketika langkahmu meninggalkan alun-alun setelah salat magrib atau tarawih, mungkin tidak ada oleh-oleh fisik istimewa, tetapi ada kenangan lembut yang bertahan lama. Justru kenangan sederhana seperti itulah yang kerap muncul kembali, diam-diam mengajakmu pulang ke Solo, sekadar untuk mengulang satu sesi travel singkat bernama ngabuburit.
Liburan Hemat ke Shanghai 3H2M dari Jakarta
Anda Mungkin Suka Juga
5 Tempat Makan Malam Laweyan yang Selalu Bikin Kangen
Januari 18, 2026
Itinerary Sapporo 3 Hari 2 Malam Bujet 7,7 Juta
Januari 24, 2026