0 0
Liburan Hemat ke Shanghai 3H2M dari Jakarta | Nature Smart Cities | Inspirasi Liburan, Eco Travel & Smart Tourism
Categories: Travel and Experience

Liburan Hemat ke Shanghai 3H2M dari Jakarta

Read Time:9 Minute, 37 Second

naturesmartcities.com – Shanghai sering terdengar sebagai kota mahal penuh gedung pencakar langit dan pusat bisnis internasional. Namun, dengan perencanaan matang, liburan singkat 3 hari 2 malam dari Jakarta tetap bisa dinikmati hanya dengan bujet sekitar Rp 6 jutaan. Kuncinya terletak pada pemilihan waktu keberangkatan, maskapai, area penginapan, serta cara berkeliling kota. Dari pengalaman mengatur rencana perjalanan hemat, Shanghai justru terasa sangat bersahabat bagi pejalan cerdas.

Artikel ini membahas itinerary Shanghai 3H2M bujet rendah, sekaligus membuktikan bahwa kota futuristis ini tidak hanya milik pelancong berkantong tebal. Saya akan mengajak Anda melihat langkah detail, mulai dari perhitungan tiket pesawat, pilihan transportasi, sampai rekomendasi kuliner murah. Setiap bagian berisi analisis pribadi, agar Anda bisa menyesuaikan gaya wisata Shanghai sesuai prioritas, entah fokus foto Instagram, wisata sejarah, atau jelajah kuliner malam.

Gambaran Umum Biaya Liburan Hemat ke Shanghai

Sebelum menyusun itinerary Shanghai, penting memahami komponen biaya terbesar. Dari Jakarta, porsi anggaran terbesar biasanya tersedot ke tiket pesawat pulang pergi. Untuk bujet Rp 6 jutaan, strategi standar adalah berburu promo jauh hari, fleksibel soal tanggal, serta membuka opsi transit singkat. Maskapai full service kadang memberi harga mirip low-cost ketika periode promo, jadi rajin memantau situs agregator benar-benar membantu.

Setelah tiket, penginapan menyusul sebagai pos kedua. Shanghai punya pilihan hostel, guest house, hingga hotel bintang tiga yang cukup ramah kantong. Triknya, cari akomodasi dekat stasiun metro besar seperti People’s Square, East Nanjing Road, Jing’an Temple, atau Lujiazui. Tarif mungkin sedikit lebih mahal dibanding area pinggiran, namun penghematan waktu serta ongkos transportasi justru menekan biaya total. Untuk 2 malam, budget sekitar Rp 1,2–1,5 juta sudah cukup nyaman.

Komponen berikutnya adalah makan, transportasi lokal, tiket masuk objek wisata, serta biaya kecil lain seperti roaming data atau kartu SIM. Untuk wisatawan hemat, rata-rata pengeluaran makan bisa ditekan sampai sekitar Rp 150–200 ribu per hari. Transportasi metro pun terhitung murah serta efisien. Bila digabung, total biaya di Shanghai sekitar Rp 2,5–3 jutaan masih sangat realistis. Dari sini, bujet total Rp 6 jutaan mulai terlihat masuk akal.

Hari Pertama: Mendarat, Adaptasi, dan Menyapa Kota

Biasanya penerbangan Jakarta–Shanghai memakan waktu sekitar 5–7 jam, tergantung transit. Untuk itinerary Shanghai 3 hari 2 malam, idealnya pilih pesawat yang tiba siang atau sore. Setibanya di Pudong International Airport, dua opsi transportasi populer menuju pusat kota adalah Maglev serta metro. Maglev sangat cepat sekaligus ikonik, namun relatif mahal. Untuk wisata hemat, metro line 2 menuju pusat kota lebih masuk akal walau memakan waktu sedikit lebih lama.

Setelah check-in, gunakan sisa hari pertama untuk orientasi. Saya menyarankan langsung mengarah ke area The Bund menjelang senja. Dari tepi Sungai Huangpu, panorama skyscraper Lujiazui di seberang sungguh memukau. Cahaya neon biru, ungu, hijau bertumpuk di permukaan kaca gedung tinggi memberikan kesan futuristis kuat. Di sisi lain, bangunan kolonial sepanjang The Bund menambah lapisan sejarah menarik, seakan mempertemukan masa lalu dan masa depan Shanghai hanya dalam satu frame.

Malam pertama bisa diisi dengan menyusuri East Nanjing Road yang terkenal sebagai surga belanja sekaligus kuliner kaki lima. Untuk pejalan hemat, fokuslah pada pengalaman, bukan belanja besar-besaran. Cicipi street food seperti dumpling, scallion pancake, hingga bubble tea lokal dengan harga relatif terjangkau. Bagi saya, momen makan sambil duduk di bangku umum, mengamati keramaian lampu neon serta penduduk lokal berlalu-lalang, memberikan rasa “Shanghai sesungguhnya” tanpa perlu membayar mahal.

Strategi Penginapan dan Transport Hemat Sejak Hari Pertama

Untuk menekan biaya sejak hari pertama di Shanghai, saya cenderung memilih hostel atau hotel budget dekat stasiun metro utama. Prioritas saya selalu akses transport mudah dibanding fasilitas mewah. Selain itu, membeli kartu transport prabayar seperti Shanghai Public Transportation Card membantu menghemat waktu ketika berganti jalur metro. Walau deposit awal terasa sedikit besar, kartu ini memudahkan perjalanan lintas hari. Kombinasi penginapan strategis, penggunaan metro, serta sedikit sesi jalan kaki membuat eksplorasi berbagai sudut Shanghai terasa ringan di kantong, sekaligus memberi kesempatan melihat detail kota lebih dekat.

Hari Kedua: Wisata Ikonik Shanghai Seharian Penuh

Hari kedua merupakan inti itinerary Shanghai 3 hari 2 malam, saat energi masih penuh serta tubuh sudah lebih adaptif dengan cuaca. Saya biasanya mengawali pagi dengan sarapan sederhana di kedai lokal sekitar penginapan. Menu seperti soy milk hangat, youtiao, atau dumpling kukus terasa pas untuk bekal jelajah panjang. Setelah itu, arahkan langkah menuju Old Town Shanghai dan Yuyuan Garden. Di kawasan ini, arsitektur tradisional berpadu kios suvenir penuh warna memberi nuansa berbeda dibanding gedung tinggi modern yang dominan.

Yuyuan Garden sendiri menghadirkan suasana tenang, kolam ikan koi, serta jembatan batu yang fotogenik. Tiket masuk memang perlu diperhitungkan dalam bujet, namun menurut saya, pengalaman menyelami sisi klasik Shanghai layak mendapat prioritas. Di luar area taman, terdapat banyak penjaja jajanan lokal. Mencoba xiaolongbao panas dengan kuah gurih di dalamnya menjadi salah satu hal wajib. Kiat saya, carilah kios yang lebih banyak didatangi warga lokal dibanding hanya turis.

Siang hingga sore, Anda bisa berpindah ke kawasan Lujiazui, pusat gedung pencakar langit Shanghai. Di sini berdiri Oriental Pearl Tower, Shanghai Tower, hingga Jin Mao Tower yang menjadi simbol kota modern tersebut. Dari sudut pandang saya, naik ke salah satu dek observasi setidaknya sekali bisa memberikan gambaran seberapa padat serta luasnya metropolis ini. Namun, bila bujet sangat terbatas, cukup menikmati siluet gedung dari bawah sambil berjalan di area taman kota juga tetap memuaskan, terutama bagi penggemar fotografi urban.

Menikmati Malam Kedua: Cahaya Kota dan Kuliner

Malam kedua di Shanghai adalah kesempatan terbaik merasakan atmosfer kota ketika lampu-lampu sepenuhnya menyala. Saya sering menyarankan naik kapal wisata singkat di Sungai Huangpu, bila anggaran masih longgar. Pelayaran malam menghadirkan sudut pandang berbeda terhadap skyline Shanghai. Pantulan cahaya dari gedung tinggi ke permukaan air menciptakan pemandangan dramatis. Namun, jika ingin hemat, berdiri di pinggir The Bund sambil memotret juga sudah sangat memuaskan.

Setelah puas menikmati pemandangan malam, waktunya berburu makan malam. Shanghai memiliki banyak food court modern yang menawarkan ragam masakan regional Cina dengan harga bersahabat. Pilih menu sharing bersama teman agar bisa mencicipi lebih banyak variasi tanpa menguras dompet. Dari sudut pandang pribadi, momen duduk lama setelah seharian jalan kaki, sambil mengevaluasi pengeluaran di aplikasi catatan keuangan, menjadi cara efektif memastikan bujet total masih dalam koridor Rp 6 jutaan.

Bagi penggemar suasana artsy, area seperti Tianzifang patut dipertimbangkan. Gang sempit dengan kafe kecil, studio seni, serta butik kreatif menghadirkan sisi lain Shanghai yang lebih intim. Walau beberapa toko memasang harga cukup tinggi, berjalan-jalan serta mengambil foto tidak memerlukan biaya. Di sinilah pentingnya menyadari bahwa banyak pengalaman berkesan justru berasal dari aktivitas low budget. Bagi saya, percakapan singkat dengan pemilik galeri kecil kadang jauh lebih berbekas daripada berbelanja barang mahal.

Mengelola Energi dan Waktu di Hari Kedua

Itinerary Shanghai sering menggoda wisatawan untuk memasukkan terlalu banyak lokasi dalam satu hari, terutama ketika waktu hanya tiga hari. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya justru memilih fokus pada beberapa area utama, mengurangi perpindahan antarkedekatan yang memakan energi. Perencanaan rute menggunakan aplikasi peta, memperhitungkan jam padat metro, serta memberi ruang untuk istirahat singkat di kafe kecil membuat hari kedua tetap menyenangkan. Dengan ritme lebih tenang, setiap sudut Shanghai bisa dinikmati lebih mendalam, bukan sekadar objek foto kilat.

Hari Ketiga: Belanja Terakhir, Oleh-Oleh, dan Pulang

Hari ketiga dalam itinerary Shanghai biasanya dimulai dengan sedikit rasa berat meninggalkan kota, namun jadwal tetap perlu dijalankan rapi. Sesuaikan aktivitas dengan jam penerbangan pulang. Bila pesawat berangkat malam, Anda masih memiliki cukup waktu untuk belanja oleh-oleh atau mengunjungi tempat yang terlewat. Saya suka memanfaatkan pagi dengan berjalan santai di taman kota atau menyusuri area perumahan sekitar penginapan, mengamati rutinitas warga lokal yang sedang berangkat kerja.

Untuk belanja oleh-oleh hemat, hindari area yang terlalu turistik karena harga sering naik signifikan. Carilah supermarket besar atau toko rantai yang menjual camilan lokal seperti permen, biskuit, atau teh khas Shanghai. Selain lebih terjangkau, kualitas produk juga relatif terjamin. Jangan lupa menyisihkan ruang di koper sejak berangkat, agar tidak tergoda membeli koper tambahan. Bagi saya, disiplin pada batas bagasi menjadi bagian penting dari konsep liburan hemat, karena biaya bagasi lebih bisa muncul tanpa terasa.

Menjelang keberangkatan, pastikan waktu tempuh menuju bandara diperhitungkan dengan aman. Shanghai memiliki lalu lintas padat pada jam tertentu, sehingga kombinasi metro serta kereta bandara bisa menjadi pilihan lebih stabil dibanding taksi. Di perjalanan pulang, saya biasanya mengevaluasi seluruh pengeluaran. Dari catatan tersebut, rata-rata bujet Rp 6 jutaan termasuk tiket pesawat memang mungkin tercapai, terutama bila pandai memanfaatkan promo dan menghindari pengeluaran impulsif, misalnya belanja di menit terakhir di duty free.

Tips Teknis Mengatur Bujet ke Shanghai

Dari sudut pandang perencana perjalanan, keberhasilan itinerary Shanghai bujet Rp 6 jutaan banyak bergantung pada disiplin riset jauh hari. Pantau harga tiket pesawat rutin, aktifkan notifikasi harga, serta pertimbangkan keberangkatan pada musim sepi wisata. Hindari periode libur nasional besar di Cina, sebab tarif akomodasi serta tiket melonjak tajam. Selain itu, pastikan paspor Anda masih berlaku minimal enam bulan, serta pelajari ketentuan visa terbaru bagi pemegang paspor Indonesia sebelum memesan tiket.

Untuk urusan pembayaran, kombinasi uang tunai serta kartu debit atau kredit internasional cukup ideal. Namun, jangan lupa menyiapkan sedikit uang kontan Yuan untuk kebutuhan awal, terutama bila belum terbiasa menggunakan metode pembayaran digital lokal. Saya juga menyarankan mengunduh aplikasi peta offline, aplikasi metro Shanghai, serta menerjemahkan frasa penting seperti alamat penginapan ke huruf Mandarin sederhana. Langkah kecil semacam ini sering mengurangi potensi stres, sehingga pengeluaran tak terduga akibat salah jalan bisa ditekan.

Satu lagi strategi penting adalah menyiapkan daftar prioritas destinasi Shanghai. Bagi pecinta sejarah, museum serta kawasan kota tua mungkin mendapat porsi besar. Penggemar foto justru akan menempatkan Lujiazui, The Bund, serta spot rooftop tinggi sebagai prioritas utama. Dengan daftar jelas, Anda tidak mudah tergoda menambah banyak tiket masuk tanpa rencana, yang akhirnya mengerek bujet. Dari pengalaman, perjalanan yang mengikuti minat personal cenderung lebih memuaskan, meski jumlah destinasi lebih sedikit.

Menyiasati Potensi Biaya Tak Terduga

Perjalanan ke Shanghai, seperti ke kota besar lain, selalu menyimpan potensi biaya tak terduga, mulai dari kebutuhan obat, cuaca mendadak ekstrem, hingga perubahan jadwal transportasi. Saya biasanya menyisihkan sekitar 10–15 persen dari total bujet sebagai dana darurat. Dana ini tidak boleh disentuh untuk belanja atau kuliner ekstra. Sikap tegas terhadap batas tersebut membantu menjaga rasa aman sepanjang perjalanan. Ketika pikiran tenang, keputusan-keputusan kecil terkait transportasi, makan, hingga belanja pun menjadi lebih rasional, sehingga rencana liburan hemat tetap berada di jalurnya.

Refleksi Akhir: Shanghai Bukan Hanya Kota Mewah

Setelah membedah itinerary Shanghai 3 hari 2 malam dari Jakarta dengan bujet sekitar Rp 6 jutaan, satu hal menjadi jelas: citra Shanghai sebagai kota supermahal tidak sepenuhnya akurat. Tentu, di sini berjejer butik mewah, restoran berkelas, serta hotel bintang lima. Namun, di sela-sela kilau neon dan menara kaca, terdapat lapisan kota yang ramah pejalan hemat, mulai dari warung kecil keluarga sampai taman publik rindang. Kuncinya terletak pada keberanian memilih pengalaman sesuai nilai pribadi, bukan mengikuti standar glamor semata.

Bagi saya, kekuatan utama Shanghai justru terletak pada kontrasnya. Pagi hari Anda bisa menikmati ketenangan Yuyuan Garden, siang terhanyut di gedung tinggi Lujiazui, lalu malam menutup hari di gang kecil penuh karya seni Tianzifang. Semua itu bisa dilakukan tanpa menghancurkan tabungan. Pengelolaan bujet ketat bukan berarti mengurangi kualitas perjalanan, melainkan memaksa kita lebih selektif. Dalam proses tersebut, setiap keputusan kecil menghadirkan cerita yang lebih personal sekaligus bermakna.

Pada akhirnya, itinerary Shanghai hemat ini bukan sekadar daftar tempat, melainkan ajakan untuk melihat perjalanan sebagai investasi pengalaman, bukan gaya hidup konsumtif. Saat pesawat pulang meninggalkan lampu-lampu kota, yang tersisa bukan lagi angka di rekening, tetapi ingatan tentang percakapan singkat, rasa makanan baru, dan momen kagum pertama kali melihat skyline Shanghai menjelang malam. Refleksi semacam ini membantu kita memahami bahwa esensi bepergian adalah belajar melihat dunia, termasuk diri sendiri, dari sudut pandang lebih luas, tanpa harus berutang pada masa depan.

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %
Roland Meertens

Recent Posts

Panduan Lengkap Ragunan Saat Ramadan 2026

naturesmartcities.com – Ragunan selalu menjadi pilihan favorit warga Jakarta ketika membutuhkan udara segar tanpa harus…

1 hari ago

Promo Bukber All You Can Eat di Hotel Anaya Azana

naturesmartcities.com – Setiap menjelang Ramadan, konten seputar ide bukber selalu mendadak hits. Grup keluarga mendadak…

2 hari ago

Libur Imlek 2026 di Malang Skyland ala Rumah Minimalis

naturesmartcities.com – Libur Imlek 2026 bisa jadi momen tepat untuk menata ulang hidup ala rumah…

5 hari ago

Harga Tiket Kebun Binatang Surabaya 2026 & Promo

naturesmartcities.com – Kebun binatang Surabaya masih menjadi destinasi favorit keluarga hingga hari ini. Setiap tahun,…

6 hari ago

Itinerary Nagoya 3 Hari 2 Malam: Seru dengan Rp12,4 Juta

naturesmartcities.com – Nagoya sering kalah populer dibanding Tokyo atau Osaka, padahal kota ini punya kombinasi…

1 minggu ago

Mengintip Serunya JungleLand Adventure Theme Park Bogor

naturesmartcities.com – Jika mencari destinasi rekreasi keluarga yang komplet, jungleland adventure theme park di Sentul,…

1 minggu ago