0 0
Menikmati Malam di Omah Londo dan Angkringan Solo | Nature Smart Cities | Inspirasi Liburan, Eco Travel & Smart Tourism
Categories: Travel and Experience

Menikmati Malam di Omah Londo dan Angkringan Solo

Read Time:3 Minute, 0 Second

naturesmartcities.com – Selepas jam kantor, Solo selalu punya cara meredakan penat. Bukan sekadar lewat kopi sachet atau mi instan, melainkan paduan nasi hangat, wedang rempah, serta obrolan santai di bawah temaram lampu. Di sinilah angkringan hadir sebagai ruang jeda, tempat banyak orang melepas lelah sebelum pulang. Beberapa titik legendaris bahkan mengusung nuansa omah londo, memadukan bangunan lawas bergaya kolonial dengan menu sederhana khas pinggir jalan.

Bagi perantau, ritual mampir angkringan terasa seperti upacara penyambutan malam. Bagi warga Solo, tradisi kecil ini sudah melekat puluhan tahun. Menariknya, kehadiran sentuhan omah londo memberi pengalaman berbeda tanpa mengusik keakraban khas angkringan. Perpaduan arsitektur klasik, kursi kayu, serta wangi bakaran sate membuat makan malam terasa istimewa, meski hanya bermodal uang receh dari saku kemeja kerja.

Omah Londo, Nostalgia di Tengah Hiruk Pikuk Kota

Salah satu daya tarik kuliner malam Solo saat ini adalah munculnya angkringan berkonsep omah londo. Bukan restoran mewah, namun rumah tua berlangit-langit tinggi dengan jendela lebar dan tegel bermotif klasik. Area depannya dialihfungsikan menjadi tempat mangkal gerobak, kursi pendek, serta meja kayu memanjang. Sentuhan kolonial memberi suasana seperti melompat ke masa lampau tanpa meninggalkan cita rasa sederhana khas angkringan.

Nuansa omah londo membuat banyak pekerja kantoran betah berlama-lama. Biasanya mereka datang masih mengenakan kemeja, melepaskan dasi, lalu memesan nasi kucing, sate usus, juga wedang jahe hangat. Di sela percakapan, tatapan sering terpaku pada kusen jendela kayu tua atau lampu gantung antik yang samar remang. Detail-detail kecil semacam ini menghadirkan sensasi pulang ke rumah lama yang menenangkan, meski sebenarnya hanya singgah sebentar.

Dari sisi pengalaman, konsep omah londo menunjukkan bahwa angkringan tidak harus identik dengan tempat seadanya. Tanpa mengubah harga ramah dompet, pemilik memberi perhatian pada suasana, pencahayaan, juga tata ruang. Saya pribadi melihatnya sebagai kompromi unik antara nostalgia, estetika, serta kebutuhan generasi sekarang yang ingin makan enak sekaligus nyaman. Rasanya pas untuk makan malam sepulang kerja, ketika tubuh lelah tapi hati masih ingin berbincang.

Angkringan Tradisional: Murah, Meriah, Penuh Cerita

Meski konsep omah londo mencuri perhatian, pesona angkringan tradisional di Solo tetap tak tergantikan. Gerobak kecil dengan atap seng, panci besar berisi air panas, serta deretan lauk di atas daun pisang selalu berhasil mengundang rasa lapar. Pegawai kantor, mahasiswa, sampai tukang ojek duduk tanpa sekat status. Satu bangku panjang bisa menampung beragam cerita, dari urusan target kantor hingga rencana mudik lebaran.

Saya selalu merasa angkringan merupakan tempat paling jujur untuk mengamati denyut kota. Tanpa musik keras, tanpa interior rumit, hanya suara sendok, desis bakaran, serta tawa kecil yang sesekali pecah. Menariknya, beberapa angkringan mulai memadukan gaya lama dengan sentuhan omah londo sederhana. Misalnya menempatkan gerobak tradisional di teras rumah tua, lalu menambah lampu bohlam kuning agar suasana lebih hangat. Kombinasi ini membuat nuansa jadul terasa kuat, tanpa kehilangan keotentikan.

Menu tetap jadi bintang utama. Nasi kucing teri, rica ayam suwir, oseng tempe, serta sate-satean masih mendominasi. Harga bersahabat membuat orang leluasa menambah porsi tanpa banyak pikir. Di beberapa titik, pengelola menghadirkan wedang rempah spesial yang disajikan di gelas lawas omah londo. Perpaduan ini bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga mengisi ruang batin yang haus akan kedekatan manusiawi.

Malam, Omah Londo, dan Ruang Pulang Sementara

Pada akhirnya, baik angkringan tradisional maupun bernuansa omah londo sama-sama menawarkan sesuatu yang kini makin langka: rasa pulang, meski hanya sesaat. Makan malam sepulang kerja di Solo bukan sekadar urusan menu hemat, tetapi tentang menemukan jeda di antara hiruk pikuk target harian. Di bangku kayu yang sedikit reyot, dengan piring kaleng berisi nasi kucing, kita belajar bahwa kenyamanan tidak selalu butuh kemewahan. Justru sentuhan omah londo yang bersahaja, dikawinkan dengan keramahan khas angkringan, menjadikan malam lebih pelan, lebih hangat, serta cukup untuk menguatkan langkah esok hari.

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %
Roland Meertens

Recent Posts

5 Kafe Dekat Solo Balapan untuk Membuat Konten Seru

naturesmartcities.com – Solo tidak hanya menarik lewat budaya dan kulinernya, tetapi juga lewat deretan kafe…

1 hari ago

One Day Trip Busan–Daegu: Liburan Keluarga Hemat

naturesmartcities.com – Liburan keluarga ke Korea Selatan tidak harus selalu menginap lama di satu kota.…

2 hari ago

Itinerary Sapporo 3 Hari 2 Malam Bujet 7,7 Juta

naturesmartcities.com – Merencanakan itinerary Sapporo 3 hari 2 malam sering terasa rumit, apalagi bila bujet…

3 hari ago

Travelguide Hemat: Menyusuri Kuwei Gunting Medan

naturesmartcities.com – Medan selalu punya cara menggoda wisatawan lewat jajanan kaki lima legendaris. Salah satu…

5 hari ago

Kuliner Malam Solo: 3 Spot Legendaris Wajib Coba

naturesmartcities.com – Kuliner malam di Solo selalu punya cara memikat siapa pun yang berkunjung. Saat…

6 hari ago

Menemukan Nyaman di Solo: Butler Coffee Boutique & Kawan-Kawan

naturesmartcities.com – Solo perlahan bertransformasi menjadi surga kecil bagi pemburu kopi dan ruangan nyaman. Bukan…

1 minggu ago